Aku Tetap Setia
kucoba pejamkan mataku serta lelapkan nalarku
“anakKu….mengapa kau lari dariKu?”
pertanyaan halus menyitirku
kucoba abaikan dan kembali pejamkan mata sekaligus hatiku
“Aku masih menunggu…..“
tak terasa sebutir air hangat mengalir jatuh pada bantalku
suara hangat dan rindu yang terus bertanya padaku
bukan bentakan dan bukan desakan
hanya desah kecewa dan sayang
jangan sekarang, jangan sekarang
demikian pintaku
“kapan anakKu…?’
air hangat kembali menetes
jangan aku, jangan aku
demikian permohonanku
“siapa lagi anakKu….?”
aku pun diam dan keraskan hatiku
aku bukan orang yang tepat,
aku bukan orang yang layak
demikian ratapku
“engkau orang yang tepat,
engkau orang yang layak“
kutangkupkan tangan di mukaku
kuusap air di wajahku
Kau tahu diriku
Kau tahu salahku
Kau lihat aku sekarang….!!
benci diriku akan kelemahanku
aku tak mampu
suaraNya terdengar sedih
suaraNya kecewa
aku pun sedih dan kecewa
aku meratap dan tersedu
mengapa Kau biarkan aku seperti ini??
bagaimana ku dapat laksanakan, bila seperti ini yang kudapat….
“Anakku, Aku selalu berimu kesempatan
Aku selalu ada untukmu
karena itu jangan pungungi Aku
jangan palingkan wajahmu dariKu…”
benarkah Kau mau terimaku kembali?
benarkah Kau tetap setia?
“Aku selalu di sini….
datanglah padaKu”
dan aku datang
DIa hapus bekas air di mataku
dan Dia dekapku
dengan lembut dia bisikkan namaku
dengan penuh kasih Dia belai rambutku
“Engkaulah yang terkasih,
Engkaulah yang terpilih
karena itu Aku di sini
untuk selalu menjagamu
tuk selalu memelukmu
tuk selalu menghiburmu
tanggalkan bebanmu
biarkan Aku yang menanggungNya…”
dan air mataku kembali mengalir
kali ini sebagai sukacita